Guru Sebagai Panutan Anak Bangsa


 

Menjadi tenaga pendidik tidaklah sebuah profesi yang begitu mudah. Karena sebenarnya banyak sekali hal-hal sulit yang harus dihadapi. Semua orang mengetahui bahwasanya menjadi orang yang bisa dsn mampu memberikan pelajaran, didikan, yang mana hal tersebut dilakukan dengan mengajar, tidak akan selalu menjadinhal yang mudah. Hal itu sudah dipastikan dari kemampuan tiap orang yang berbeda. Tidak semua orang bisa menjadi perawat orang sakit ataupun dokter, begitu pula tidak semua orang bisa menjadi tenaga pendidik bagi generasi muda dan menjadi seorang guru.

Profesi guru, dosen, ataupun pengajar-pengajar dalam pendidikan yang lain-lainnya akan selalu menjadi faktor penting pada pembangunan sebuah negara. Karena lahirnya genarasi masa depan sebagai harapan suatu bangsa, akan terletak pada pendidikannya. Jadi para guru dan tenaga pengajar lainnya merupakan salah satu fondasi penting dalam pembangunan suatu bangsa dan negara. Akan tetapi ada beberapa hal yang cukup disayangkan terjadi di tengah masyarakat kita saat ini. Hal dimaksud tersebut ialah mengenai bagaimana perlakuan terhadap guru yang terakadang dinilai masih sangat kurang. Misalnya saja seperti pendapatan atau gaji guru dari hasil mengajar yang terkadang nilainya terbilang cukup kecil. Tidak hanya berhenti di situ, permasalahsn guru honorer pun juga semakin banyak, pasalnya guru-guru honorer juga mengalami tingkat kesulitan yang sama dengan guru PNS, akan tetapi pendsoatan mereka terkadang jauh berbeda.

Membicarakan tentang guru ataupun guru honorer, menjadikan saya teringat pada salah satu guru pada saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat itu kelas saya tak pernah mengalami kelas rolling atau semacamnya, yang bisa menyebabkan saya ataupun teman-teman saya menempati kelas baru dan juga teman sekelas yang baru pula. Iya, lebih tepatnya saya menempati kelas tetap mulsi dari kelas 10 hingga kelas 12. Kelas yang saya tempati tersebut juga memiliki wali kelas tetap berna Bu Dini, yang juga merupakan salah satu guru honorer di sekolah pada saat itu. Beliau mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dan juga Sastra Indonesia bagi siswa kelas bahasa. Meskipun beliau guru bahasa, akan tetapi beliau menjadi wali kelas bagi kelas anak-anak jurusan MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam).

Bu Dini memang belum setua guru-guru lainnya. Beliau masih terbilang muda di antara deretan guru-guru di sekolah saya pada saat itu. Akan tetapi beliau juga seringkali aktif dalam event ataupun acara sekolah, terkadang beliau menjadi pembawa acara atau biasa yang disebut MC, terkadang beliau juga menjadi guru panitia, ataupun hal-hal semacam itu lainnya. Meskipun masih sebagai guru honorer, beliau selalu mengajar dengan sepenuh hati. Beliau cukup dikenal sebagai guru yang terbilang tegas, dan juga dapat dikatakan masuk pada deretan guru-guru kreatif di sekokah saya pada saat itu. Pasalnya, karena sempat beberapa kali beliau memberikan tugas-tugas kepada peserta didiknya untuk membuat video-video kreatif, seperti membaca puisi, berdebat, hingga menulis novel dan dibukukan.

Banyak sekali pengalaman menarik yang dapat diambil selama saya dan teman-teman diajar oleh beliau selama 3 tahun di Sekolah Menengah Atas. Mulai dari hal-hal yang diajarkan di kels seperti beberapa materi Bahasa Indonesia, hingga pengalaman berharga di masa-masa saya dan teman-teman sering mendapatkan masalah di sekolah. Sebagai siswa putih abu-abu tentu saja banyak masalah yang dilakukan, mulai dari tidak mengerjakan tugas, membolos kelas, bertengkar antar kelas, hingga membuat masalah dengan guru (tidak ada yang bisa dibanggakan). Akan tetapi beliau selalu dengan kesabaran beserta ketegasannya mendidik kami tidak hanya dalam kelas di ruang lingkup mata pelajaran, akan tetapi juga secara langsung ataupun tidak langsung, turut pula dalam mendidin karakter saya dan teman-teman sekelas saya pada waktu itu.

Beliau selalu mengajar dengan sepenuh hati karena mungkin memang hal itu telah menjadi panggilan hati. Beliau telah menjadi guru di sekolah kami sekitar 7 tahun. Waktu yang cukup lama pula jika menjadi guru honorer dengan jangka waktu seperti itu. Meskipun begitu beliau selalu memberikan pengajaran terbaik bagi para peserta didik yang diajarnya. Tidak hanya mengimplementasikan pads segi materi pembelaharan secara eksakta ssja, tetapi juga secara karakter dan perilaku. Banyak pula berbagai tugas sekolah yang diberikan oleh beliau menjadikan saya dan teman-teman cukup untuk melatih beberapa soft skill atau dapat dikatakan pula kemampuan-kemampuan mendasar. Hal-hal tersebut misalnya saja seperti kemampuan berkomunikasi dengan baik, public speaking, kepenulisan fiksi maupun non fiksi, hingga penelitian.

Beberapa murid akan sangat senang dan lebih memahami materi jika dalam pembelajarannya terdapat praktek. Bisa jadi hal semacam inilah yang diterapkan oleh Bu Dini agar kita bisa benar-benar mengingat materi yang diajarkan oleh beliau. Misalnya saja pada materi debat, saya dan teman-teman sekelas benar-benar dilatih bagaimana cara berdebat dengan baik dan benar. Selain itu kami juga disuruh untuk membuatkan video pada saat debat berlangsung, yang mana selanjutnya akan diunggah pada akun youtube kelas kami. Tidak hanya berhenti disitu saja, kami juga pernah diberikan tugas oleh beliau untuk menulis naskah novel hingga kemudian naskah-naskah kami tersebut dinawa ke percetakan dan dijadikan sebuah buku layaknya novel-novel pada umumnya. Tugas-tugas seperti itu memberikan banyak sekali pengalaman baru bagi saya dan teman-teman.

Guru memang menjadi salah satu garda terdepan dalam perkembangan suatu bangsa. Generasi muda juga dapat terbentuk dengan adanya guru-guru yang hebat. Sayangnya, meskipun sebenarnya masih sangat banyak guru-guru berkompeten yang mengajar dengan tulus, qkan tetapi terkadanv timbal balik yang diberikan tidak selayak dan semestinya. Gaji guru tidak sebagus ajaran dan didinan yang mereja berikan, bahkan terkadang penghormatan terhadap mereka pun juga masih kurang untuk saat ini. Setidaknya karena kita tidak bisa berwenang atas hal itu semua, kita masih tetap bisa memberikan rasa hormat terhadap guru-guru kita. Karena ilmu yang kita dapatkan juga bergantung pada keridhoan mereka pula.

Komentar