Pembelajaran Inovatif Kelas Kewarganegaraan
Kisah perkuliahan pada semester 2 ini akan segera berakhir. Sesegera
mungkin akan berpindah pada semester dan tahun ajaran baru. Semua mata kuliah
memiliki kesannya masing-masing, karena tiap dari mereka memiliki keunikannya
sendiri. Salah satu mata kuliah yang berkesan di semester dua ini adalah
Kewarganegaraan. Sebagai mahasiswi UIN Malang yang diajar oleh Pak Edi, kami
dituntut untuk menjadi penulis. Meskipun tuntutan tersebut terjadi secara tidak
langsung, tetapi tugas-tugas yang beliau berikan cukup memberikan kita asahan
dalam menulis.
Setiap minggunya Pak Edi akan selalu memberikan tugas untuk
menuliskan artikel pada blog ataupun website pribadi kami. Tidak harus melalui
blog pribadi saja, tetapi juga diperbolehkan untuk menumpang pada media-media
online lainnya misalnya saja seperti kompasiana.com. sejujurnya metode
pembelajaran seperti ini memang tak akan pernah membosankan untuk dilakukan,
terlebih bagi mereka yang menyukai tantangan dan hal-hal baru.
Tugas atau tema yang diberikan pun selalu bervariasi dan
berbeda pada tiap pekan. Mulai dari materi general atau umum seperti kebudayaan
daerah, hingga merambah pada isu-isu terkini seperti tanggapan terhadap kejadian
terorisme di Indonesia. Salah satu hal yang menjadi tantangan dalam rangka
kepenulisannya adalah tentang bagaimana mendapatkan sumber tulisan melakui
wawancara pihak-pihak terkait. Tentu saja dengan tuntutan seperti itu, para
mahasiswa pun akan semakin terasag skill-skill dalam berkomunikasinya.
Sesuai dengan judul mata kuliah yang sedang dibahas saat
ini, yaitu mata kuliah Kewarganegaraan yang mana tentu saja mengajarkan tentang
bagaimana berwarganegara dengan baik di Indonesia. Mata kuliah ini sebenarnya
tak jauh berbeda dengan mata pelajaran saat masih sekolah yaitu Pendidikan Kewarganegaraan
atau yang biasa disingjat dengan PKN. Begitu pula pada semester sebelumnya,
yaitu pada kuliah semester 1 sempat ada mata kuliah bernama Pancasila, yang
mana mempelajari segala nilai-nilai yang terkandung dalam dasar negara
Indonesia yakni Pancasila.
Pembelajaran mengenai kewarganegaraan ataupun Pancasila
kerap kali dianggap sebagai mata kuliah ataupun mata pelajaran yang
membosankan. Hal ini tak lain dan tak bukan karena materi yang terkesan
diulang-ulang serta metode pembalajaran yang kurang variatif. Tetapi untun kali
ini, metode pembelajaran yang dilakukan oleh Dosen Kewarganegaraan bernama Pak
Edi ini terdengar serta terlihat berbeda dari pembelaharan pada umumnya. Karena
kelas beliah terhitung jarang nengadakan pertemuan online via google meet
ataupun zoom meet. Tetapi justru para mahasiswanya dituntut untuk menulis pada
media online.
Sebagai mahasiswa yang diajar oleh Pak Edi dengan metode
pembelajaran menulis tiap pekan, tak dapat dipungkiri pula jika masih terdspat
beberapa kendala. Kendala-kendala yang dialami oleh para mahasiswanya tak lain
dan tak bukan seputar curhatan mereka mengenai seberapa sulitnya jika terdapat
wawancara sebagai sumber informasinya. Karena pada kondisi pandemi seperti saat
ini segala sesuatu akan dibatasi dan hal itu cukup membatasi dalam pergerakan
wawancara. Selain itu ada beberapa mahasiswa yang berpendapat bahwasanya jangka
waktu pengerjaan tugas yang diberikan terbilang cukup singjat. Tetapi ada juga
sebagian lainnya yang merasa tertantang akan hal ini.
Sebenarnya metode pembelaharan yang dilakukan oleh Pak Edi
ini dspat dikatakan cukup inovatif. Karena tulisan-tulisan atau artikel-artikel
karya peserta didik dijadikan sebagai media untuk absensi tiap minggunya. Hal
itu pula yang secara tidak langsung membiasakan para peserta didik untuk menulis.
Tak dapat dipungkiri pula bahwasanya skill atau kemampuan menulis telah menjadi
soft skill yang sangat dibutuhkan di era saat ini. Selain sebagai mahasiswa
yang nantinya pasti akan menulis skripsi, banyak juga pekerjaan menjanjikan
yang menggunakan skill menulis sebagai kemampusn utama. Bahkan di era digital
seperti saat ini, menulis sudah menjadi hal yang sangat umum karena tak sedikit
pula media sosial yang membutuhkan kemanpuan dasar tersebut, misalnya saja jika
anda menulis thread di twitter, menulis di quora, ataupun yang lain-lainnya.
Kemampuan menulis di era digital banyak sekali peluangnya,
siapapun bisa mengambil peluang tersebut jika memang mereka mau. Tak terkecuali
dengan pelajar ataupun mahasiswa, tak jarang pula banyak dsri mereka yang tidak
memiliki keahlian dalam menulis, tetapi membiasakan diri hingga pada akhirnya
dapat memperjual belikan karya-karya mereka. Tak ada hasil yang ada hanya
melalui khayalan, semuanya pasti membutuhkan usaha dan effort dalam mencapai
titik tersebut.
Sayangnya meskipun profesi sebagai penulis baik pekerjaan
tetap, pekerjaan paruh waktu, ataupun hanya sekedar pekerja harian lepas, suda
sangat marak tetapi masih terbilang sedikit media yang dapat menaungi pelatihan
atau semacamnya. Tetapi pembelajaran yang dilakukan oleh beliau secara tidak
langsung telah membantu para mahasiswa untuk berlatih lebih dalam hal menulis. Mereka
jadi lebih terbiasa dengan penyusunan kata, serta dunia kepenulisan di media
digital. Tentu saja hal ini memiliki
banyak sekali dampak positif yang dapat diambil, dari segi manapun itu. Dampak negatifnya
pun dapat berubah menjadi positif jika para peserta didik telah memiliki
kesadaran dalam hal tersebut.
Pembelajaran mata kuliah Kewarganegaraan dalam satu semester
ini merupakan salah satu pembelajaran yang paling berkesan. Karena selain mengajarkan
materi, soft skill atau kemampuan diri pun dapat terasah di kelas ini. Mulai dari
kemampuan menulis, berkomunikasi, hingga critical thinking atau kemampuan
berpikir kritis, semuanya bisa didapatkan dalam kelas Kewarganegaraan kali ini.
Sebenarnya pembelajaran seperti ini terasa cukup efektof pula dalam mengasah
kemampuan peserta didik jika dilihat dari sudut pandang mereka. Karena untuk ke
depannya pasti hal-hal sederhana inilah yang bisa jadi membantu mereka.

Komentar
Posting Komentar